Mbah Surip dan Pawai 17 Agustus


rasta-hatIni posting pertama saya, saya tempatkan almarhum Mbah Surip sebagai tokoh dihalaman pertama saya dengan harapan “jujur saja, siapa tau nasib saya bisa ikutan naik daun seperti Mbah Surip”, tapi mudah-mudahan juga, saya tetap panjang umur, supaya saya tetap bisa menikmati hasil keanehan saya.

Pria yang dilahirkan dengan nama Urip Ariyanto di Mojokerto, 5 Mei 1949 ini benar benar memiliki kehidupan yang misterius dan totally weird, apakah dia menikmati jalan nasibnya? atau dia sendiri merasa terperangkap dengan pilihannya sendiri, dengan menggelandang ke setiap tempat dan kehilangan waktu dengan keluarga? hanya Mbah yang tau.

Sewaktu kecil saya punya cita-cita yang tidak sama dengan anak-anak lainnya ( saat itu kebanyakan cita-cita pilihan mereka, jadi Dokter, Polisi,Tentara, atau hakim. “Bisa kita lihat pada saat pawai 17 Agustus keliling kampung, mereka terlihat bersemangat dengan seragam yang se ide…mungkin karna tempat sewa baju hanya punya yang itu-itu saja, atau orangtua mereka punya pengalaman bayar mahal sewaktu berobat ke dokter, jadi jika anaknya jadi dokter mereka bisa berobat gratis, dan atau orangtua mereka sering ditilang polisi, jadi kalu anaknya jadi polisi, bisa 86 jika mereka ditilang lagi…..wah, makin ngawur)

Cita-cita saya waktu kecil pengen hidup bebas, mungkin karena terlalu banyak baca bacaan seperti : Huckleberry Finn, Uncle’s Tom Cabin, Winetou dan semacamnya…“Cita-cita saya cuma ingin punya rumah ditepi pantai dan punya anjing”

Sewaktu usia saya sekitar 25 tahun, cita-cita saya berubah, “Saya kepengin jadi orang kaya” entah sekaya apa, atau sekaya siapa, yang penting kaya. Mungkin karena saya kebanyakan bergaul dengan kawan-kawan saya yang kaya, atau karena memang saya baru tahu kalu selama ini saya miskin.

Di usia menjelang usia 40, ternyata saya tidak jadi kaya, atau belum kaya, cita-cita saya mulai menyerah pada keadaan, saya mulai merubah cita-cita saya : “Saya ingin jadi orang yang berguna bagi keluarga dan orang lain” (saya tidak tahu apakah ini pelarian dari kegagalan-kegagalan saya, atau saya sudah kehabisan stok ide cita-cita….karena sepertinya cita-cita saya ini semakin muluk) berguna bagi orang lain?

Mungkin sampai mati sayapun tidak pernah tau apa sebetulnya cita-cita saya, mungkin memang benar manusia ini cuma wayang kecil di lakon Sang Pencipta……….atau itu cuma pembenaran saya atas kegagalan saya bercita-cita.

Punya ide? siapa tau saya bisa dikasih pencerahan, mumpung masih ada sisa waktu hidup saya…….Insya Allah.





Leave a Comment

Trackbacks